twitter



JAKARTA - Di kampus, kita akan bertemu dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Di kelas, kita juga akan diajar oleh para dosen dengan beragam karakteristik.

Selain beradaptasi dengan teman dan dosen secara personal, kita juga perlu beradaptasi dengan lingkungan kampus dan ruang kuliah. Supaya enggak salah langkah, simak panduan etiket belajar di kelas berikut ini.


1. Laptop tidak selalu diterima.
Enggak semua kampus dan dosen mengizinkan mahasiswanya menggunakan laptop di kelas. Banyak dosen melarang penggunaan laptop di kelas karena para mahasiswanya sibuk ber-Facebook ria ketimbang
mencatat materi kuliah. Jika ingin menggunakan laptop di kelas, tanya dulu ke dosen pengampu mata kuliahmu, ya!



JAKARTA - Kehadiran Undang-Undang (UU) No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (PT) justru semakin memperkuat keberadaan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang selama ini dinilai dianak tirikan oleh pemerintah oleh beberapa pihak. Dengan demikian, posisi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sejajar dengan PTS.  
Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam ketika menyosialisasikan UU PT di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta belum
lama ini. "Ini sekaligus menepis pandangan bahwa PTS dianak tirikan atau pemerintah hanya mengutamakan PTN saja,” kata Nizam, seperti disitat dari laman UGM, Sabtu (20/10/2012).

Prinsip sejajar antara PTN dan PTS sebagaimana amanat UU Pendidikan Tinggi, lanjutnya, juga berlaku pada









Ganti menteri, ganti kurikulum. Mengapa harus diganti? Apanya yang diganti? Untuk jawab pertanyaan ini, perlu data akurat serta kajian khusus.

Lantas, setujukah Anda dengan perubahan kurikulum? Ini bisa panjang pula diskusinya. Apalagi kalau setiap orang bebas ungkap argumentasinya.

Faktor subjektivitas akan menggiring kita berdebat kusir, soal lain yang bisa jadi tak menjawab persoalan
utama. Karena kontraproduktif, hindarilah.

Penting, apapun perubahan kurikulum yang hendak digagas, kita mesti bersungguh-sungguh dalam proses implementasinya. Satu prinsip, perubahan kurikulum mesti berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. Tak ada kompromi untuk soal kualitas pendidikan.

Saya cukup tercerahkan ketika mencerna gagasan (Alm) Prof. Dr. Dedi Supriadi tentang relevansi